artikel

Ibu..



Sudahkah anda melihat postingan sebelum. Jika belum anda bisa klik posting Surat Dari Emak. Puisi ini merupakan balasan dari 2 orang anak  yang masih berkaitan dengan emak tersebut.  Dan masih satu atap dengan rumah prihatin di Malaysia.  Selamat Menyimak..
Ibu…
dikedinginan malam sunyi
terkenang aku akan pemergian mu
dibuai sejuta kenangan manis disiram segar
subur kasih penuh rindu mengiringi pemergianmu
ibu..
Sejuta keampunan kupinta darimu
buat penghapus dosa insan kerdil ini
buat menebus kekurangan melayani hayatmu
buat melunas hutang jiwa
seorang anak terhadap ibu
oh ibu..
Ku tinggalkan jasadmu dikuburan ini
namun izinkan aku
bawa pulang kasih sayangmu
izinkanku bawa bersama semangat dan doamu
izinkan aku pulang
berbekal keampunan dan redhamu ibu..
Doakanlah aku ibu
agar bersemangat menyambung amal ibadahmu
berbekal akal,ilmu dan iman
yang engkau ajarkan dulu
ya tuhan…
ku titipkan jasad ibu untuk dikau rahmati
ku pinjam jiwa kental dan kasih sayang ibu
buat bekal hidup yang berbaki
ku rayu keampunanmu
segala dosanya ya robbi..
Hidayahkan aku apa saja
demi menebus dosa ibunda
biar nyawa,harta dan jiwa ini
menjadi galang gantinya..
Jangan kau siksa dia wahai tuhan
aku pohon,aku rayu kepadamu setulus jiwa
rahmatilah,kasihanilah dia
seperti dia mengasihiku sejak kecil
ya allah ya tuhan ku…
aku berpegang pada janjimu..
Janji rasulmu
izinkan aku menyambung amal ibu
izinkan aku memenuhi tawaran janjimu
demi ibuku…
demi ibuku…
demi ibuku…
al-fatihah untukmu ibu..
Al-fatihah!!!
Mumpung masih ada kesempatan, mari berbakti pada orang tua kita.


Read more: http://www.resensi.net/ibu/2010/12/#ixzz191P837rR


Kapel Sistina
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Tuhan menciptakan Adam oleh Michelangelo.
Kapel Sistina (bahasa Inggris: Sistine Chapel, bahasa Italia: Cappella Sistina) adalah kapel yang terletak di dalam lingkungan Istana Apostolik, kediaman resmi Paus di Vatikan. Kapel ini terkenal karena arsitekturnya yang tampak melahirkan kembali Bait Salomo dari zaman Perjanjian Lama, dan akan dekorasinya yang seluruhnya dihias oleh seniman-seniman besar era Renaissance seperti Michelangelo, Raphael, dan Sandro Botticelli. Atas perintah Paus Yulius II, Michelangelo melukis langit-langit kapel seluas 12.000 kaki persegi antara tahun 1508 hingga tahun 1512. Meskipun ia jengkel dengan tugas ini dan berpikir bahwa tugasnya hanya untuk kebesaran Paus, kini langit-langit kapel ini dianggap sebagai mahakaryanya.
Nama Kapel Sistina berasal dari Paus Siktus IV, yang merestorasi Kapel Magna antara tahun 1477 hingga tahun 1480. Selama periode ini, sekelompok pelukis seperti Pietro Perugino, Sandro Botticelli, dan Domenico Ghirlandaio membuat beberapa lukisan dinding yang menggambarkan kehidupan Musa dan Yesus. Lukisan-lukisan tersebut selesai pada tahun 1482, dan pada 15 Agustus 1483,[1] Siktus IV mengadakan misa pertama untuk merayakan peristiwa Bunda Maria diangkat ke Surga.
Sejak era Siktus IV, kapel ini menjadi tempat kegiatan religius dan aktivitas kepausan, seperti tempat diadakannya konklaf untuk memilih Paus baru.

Daftar isi

[sembunyikan]

[sunting] Sejarah

Kapel Sistina terkenal karena menjadi lokasi pelaksanaan konklaf, atau pemilihan Sri Paus yang baru. Bangunan ini adalah kapel untuk badan yang disebut Kapel Sri Paus. Pada waktu kepemimpinan Paus Siktus IV di akhir abad ke-15, kapel Sri Paus terdiri atas 200 orang, termasuk para imam, pegawai Vatikan dan orang awam yang berkedudukan penting. Terdapat 50 acara dalam satu tahun berdasarkan kalender kepausan, dan dalam acara tersebut seluruh anggota Kapel Sri Paus harus datang.[2] Dari 50 acara ini, 35 dari antaranya adalah misa Kudus (8 misa ini diselenggarakan di basilika, biasanya di Basilika Santo Petrus, dan dihadiri oleh orang banyak). Misa-misa ini termasuk Misa Natal dan Misa Paskah --- dua misa yang biasanya dipimpin langsung oleh Sri Paus. Dua puluh tujuh misa lainnya bisa diselenggarakan di sebuah tempat yang lebih kecil dan tidak perlu dihadiri oleh khalayak ramai. Kebutuhan akan tempat inilah yang menjadi alasan dibangunnya Kapel Sistina di lokasi yang sama tempat Kapel Maggiore berdiri (Kapel Maggiore juga menjalankan fungsi yang sama).
Lukisan diri Paus Siktus IV.
Kapel Maggiore yang bermakna "Kapel yang Lebih Besar" mendapatkan namanya dari fakta bahwa terdapat kapel lainnya yang digunakan oleh paus dan pengiringnya untuk ibadah harian. Pada zaman Paus Siktus IV, tempat tersebut adalah Kapel Paus Nikolas V yang didekorasi oleh Fra Angelico. Kapel Maggiore tercatat telah berdiri pada tahun 1368. Berdasarkan bukti komunikasi antara Andreas dari Trebizond kepada Paus Siktus IV, pada saat Kapel Maggiore diruntuhkan untuk dijadikan lokasi kapel yang baru, kapel tersebut sudah dalam kondisi sangat parah dengan dindingnya yang miring.[3]
Kapel yang ada saat ini, di lokasi tempat Kapel Maggiore berdiri, dirancang oleh Baccio Pontelli untuk Paus Siktus IV, yang kemudian nama paus tersebut digunakan untuk nama kapel tersebut. Bangunan ini dibangun di bawah pengawasan Giovannino de Dolci antara tahun 1473 hingga tahun 1481.[4] Ukuran kapel yang baru tampak sangat mengikuti ukuran kapel yang lama. Setelah selesai dibangun, kapel yang baru didekorasi dengan lukisan-lukisan karya seniman-seniman ternama akhir abad ke-15, termasuk Botticelli, Ghirlandaio dan Perugino.[3]
Misa pertama di Kapel Sistina diselenggarakan pada tanggal 9 Agustus 1483, tepat pada saat perayaan Bunda Maria diangkat ke Surga. Pada misa tersebut, Kapel Sistina dipersembahkan kepada Santa Perawan Maria.[5]
Fungsi Kapel Sistina masih sama hingga kini, dan terus menjadi tempat penyelenggaraan berbagai acara-acara penting dalam Kalender Kepausan, kecuali saat Sri Paus sedang bepergian. Terdapat sekelompok paduan suara tetap di kapel ini. Banyak lagu-lagu telah pernah diciptakan khusus untuk mereka. Salah satu yang terkenal adalah Miserere karya Allegri.[6]

[sunting] Konklaf kepausan

Salah satu fungsi utama Kapel Sistina adalah sebagai tempat pemilihan Sri Paus yang baru dalam sebuah sidang tertutup (konklaf) Kolegium para Kardinal. Dalam konklaf, cerobong asap dipasang di atap kapel. Dari cerobong inilah asap akan muncul sebagai tanda dari hasil sidang tersebut. Apabila asap putih muncul, berarti Sri Paus yang baru telah terpilih. Asap putih terbuat dari pembakaran surat suara pemilihan dan beberapa zat kimia tambahan. Apabila seorang kandidat Sri Paus menerima kurang dari 2/3 jumlah suara (batasan suara mayoritas), maka para kardinal mengeluarkan asap hitam yang terbuat dari pembakaran surat suara pemilihan dengan jerami basah atau zat-zat kimia lainnya, untuk menandakan bahwa pemilihan paus yang baru belum berhasil.[7]
Konklaf juga menyediakan tempat bagi para kardinal untuk mendengarkan misa harian, dan mereka dapat makan, tidur, dan menghabiskan waktu dengan dilayani oleh para pelayan. Dari tahun 1455, konklaf diadakan di Vatikan. Sebelum itu, hingga pada masa perpecahan antara Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks Timur (Skisma Timur-Barat), konklaf diadakan di biara tarekat Dominikan bernama Santa Maria sopra Minerva.[8]
Tirai-tirai lambang resmi para kardinal pemilih sebelumnya digunakan selama konklaf sebagai tanda persamaan kederajatan. Setelah Sri Paus baru menerima pemilihannya, ia akan memilih nama barunya. Di saat itu, para kardinal lainnya akan menarik seutas tali yang terikat di kursi-kursi mereka untuk merendahkan tirai-tirai mereka tersebut. Hingga saat reformasi yang dilaksanakan oleh Santo Paus Pius X, tirai-tirai tersebut terdiri atas berbagai macam warna untuk menandakan kardinal siapa yang diangkat oleh Sri Paus. Paus Paulus VI menghapuskan tradisi tirai-tirai ini semuanya, semenjak di bawah kekuasaannya, jumlah anggota Perhimpunan para Kardinal telah bertambah sedemikian banyak sehingga para kardinal ini harus didudukkan dalam dua barisan menghadap ke dinding. Hal ini menyebabkan tirai-tirai yang ada menghalangi para kardinal yang duduk di barisan belakang.

[sunting] Arsitektur

Eksterior Kapel Sistina.

[sunting] Eksterior

Kapel Sistina adalah bangunan batu persegi-empat yang tinggi. Bagian luarnya tidak dihiasi dengan hiasan-hiasan arsitektur atau dekoratif seperti yang biasanya ada di banyak gereja-gereja zaman Abad Pertengahan dan Renaissance di Italia. Bangunan ini tidak memiliki facade bagian luar ataupun pintu gerbang yang dapat digunakan untuk prosesi arak-arakan karena jalan masuk selalu lewat ruang-ruang dalam di lingkungan Istana Kepausan. Ruangan dalamnya dibagi menjadi tiga lantai dengan bagian paling bawahnya berukuran sangat luas dan ditopang oleh ruang bawah tanah berbentuk setengah lingkaran yang sangat kokoh, dilengkapi juga dengan beberapa jendela dan sebuah pintu untuk menuju ke halaman luar.
Bagian atasnya adalah ruangan utama, yakni Kapel itu sendiri, dengan ukuran dalamnya adalah panjang 40,9 meter (134 kaki) dan lebar 13,4 meter (44 kaki) sesuai dengan ukuran Kuil Solomon seperti yang ada di dalam Perjanjian Lama.[9] Langit-langit yang melengkung berbentuk kubah memiliki ketinggian 20,7 meter (68 kaki) dari lantai. Bangunan ini memiliki enam jendela berbentuk melengkung di kedua sisinya dan dua jendela dengan bentuk yang sama di bagian depan dan belakangnya. Beberapa jendela ini telah ditutup, namun kapelnya masih dapat dimasuki.
Di atas langit-langit yang melengkung terdapat lantai tiga bangunan dengan kamar-kamar untuk para penjaga. Di lantai ini dibangun jalan terbuka yang mengelilingi bangunan yang ditopang oleh sirip-sirip fondasi yang muncul menggantung dari tembok. Jalan terbuka ini telah dilindungi dengan atap karena kerap kali menjadi sumber masuknya air ke kubah kapel.
Kerusakan dan keretakan di Kapel Maggiore memaksa kapel yang baru untuk membangun penopang yang sangat besar untuk menyokong dinding-dinding luar. Dibangunnya bangunan-bangunan lain di sekitarnya telah menyebabkan perubahan pada tampilan luar Kapel Sistina ini.

[sunting] Interior

Suasana interior Kapel Sistina.
Seperti juga kebanyakan bangunan yang diukur secara internal, ukuran pastinya sulit untuk didapatkan, namun perbandingan umum dari ukuran kapel ini dapat diperkirakan dengan cukup akurat. Panjang bangunan ini adalah ukuran dasarnya, dibagi tiga untuk memperoleh ukuran lebar bangunan dan dibagi dua untuk memperoleh ukuran tinggi bangunan. Sehingga terciptalah rasio 6:2:3 untuk panjang, lebar dan tinggi bangunan.
Dengan menggunakan rasio tersebut, terdapat enam jendela di tiap sisi bangunan dan dua jendela di bagian depan dan belakang bangunan. Selembar penyekat yang memisahkan kapel sebenarnya diletakkan tepat di tengah-tengah antara dinding altar dan pintu masuk, namun hal ini telah berubah. Ukuran perbandingan yang jelas merupakan ciri khas arsitektur Renaissance dan mencerminkan berkembangnya ketertarikan terhadap warisan klasik Romawi.
Langit-langit kapel adalah kubah berbentuk seperti tong yang dipipihkan, yang tergantung dari sebuah jalur yang mengitari tembok-tembok pada ketinggian yang sama dengan lengkungan jendela. Kubah ini dipisah-pisahkan menjadi kubah-kubah kecil di atas tiap jendela, yang membagi kubah tersebut di bagian terbawahnya menjadi sebuah susunan sanggahan kubah (pendentive) yang besar yang seakan-akan muncul dari tiang tembok (pilaster) yang sempit di antara jendela-jendelanya. Kubah kapel ini sebenarnya dicat warna biru cerah dan dihiasi dengan bintang-bintang emas, sesuai dengan rancangan Piermatteo Lauro de Manfredi da Amelia.[3]
Tempat berjalan di dalam kapel bergaya opus alexandrium, yakni gaya dekorasi menggunakan marmer dan batu-batu berwarna dalam sebuah pola yang mencerminkan ukuran perbandingan yang tadi disebutkan ke dalam bagian interior. Gaya ini juga untuk menandai arah jalannya prosesi dari pintu utama yang biasa digunakan oleh paus pada acara-acara penting seperti Minggu Palma.
Penyekat atau transenna dari marmer yang dibuat oleh Mino da Fiesole, Andrea Bregno dan Giovanni Dalmata membagi kapel ini menjadi dua bagian yang sama luasnya.[10] Sebenarnya penyekat ini membagi ruangan yang sama besarnya bagi anggota-anggota Kapel Kepausan yang ditempatkan di area dekat dengan altar dan bagi para peziarah dan penduduk lainnya, namun seiring dengan bertambahnya jumlah umat yang menghadiri misa yang dipimpin oleh paus, penyekat ini dipindahkan untuk memberikan tempat yang lebih luas bagi para peziarah dan orang awam.
Bagian atas transenna ini dihiasi dengan tempat lilin yang penuh hiasan, sebelumnya pernah disepuh emas, dan memiliki sebuah pintu kayu, yang sebelumnya adalah pintu indah berlapiskan besi yang ditempa. Para pembuat transenna juga membangun cantoria atau balkon tempat paduan suara yang menjorok ke luar dan seakan-akan menggantung di udara.

[sunting] Permadani Raphael

Salah satu dari sepuluh permadani yang dibuat oleh Raphael untuk Kapel Sistina.
Selama masa upacara penting tertentu, dinding samping kapel ditutupi dengan rangkaian permadani yang aslinya dikerjakan oleh Raphael untuk kapel ini, namun kemudian dirampok oleh tentara-tentara Perancis selama jatuhnya kota Roma tahun 1527 sehingga menjadi tersebar di seputar Eropa. Permadani-permadani ini menggambarkan peristiwa-peristiwa dari kehidupan Santo Petrus dan Santo Paulus seperti yang digambarkan dalam Injil dan kitab Kisah Para Rasul. Pada akhir abad ke-20, rangkaian permadani ini digabungkan dan ditampilkan kembali di dalam Kapel Sistina pada tahun 1983. Gambar rancangan untuk persiapan produksi dalam ukuran sebenarnya bagi tujuh permadani (dari sepuluh yang ada), yang dikenal dengan sebutan Gambar Rancangan Raphael, kini disimpan di London.[11]

[sunting] Dekorasi

Diagram dekorasi fresko di tembok dan atap.
Lukisan-lukisan dekorasi Kapel Sistina terdiri atas lukisan-lukisan dinding dan rangkaian permadani. Semuanya adalah hasil karya dari berbagai seniman yang berbeda dan merupakan bagian dari beberapa penugasan yang berbeda dari pihak Vatikan (beberapa di antaranya bahkan bertentangan antara satu dengan lainnya).
Dinding-dinding kapel dibagi menjadi tiga tingkatan. Bagian bawahnya dihiasi dengan gantungan-gantungan dinding yang penuh hiasan yang terbuat dari perak dan emas. Bagian tengahnya memiliki dua rangkaian lukisan yang saling mendukung satu dengan lainnya, yakni lukisan-lukisan tentang Kehidupan Nabi Musa dan Kehidupan Yesus Kristus. Lukisan-lukisan ini ditugaskan di tahun 1480 oleh Paus Siktus IV kepada Ghirlandaio, Botticelli, Perugino dan Cosimo Roselli beserta semua fasilitas kerja mereka. Bagian atasnya dibagi menjadi dua zona. Pada bagian bawah jendela terdapat galeri lukisan para Sri Paus yang dikerjakan bersamaan dengan lukisan-lukisan Kehidupan tersebut di atas. Di sekitar bagian atas jendela yang berbentuk lengkungan --- area yang dikenal dengan nama lunette --- dilukiskan para nenek moyang Yesus Kristus, yang dilukis oleh Michelangelo sebagai bagian dari skema lukisannya di langit-langit kapel.
Bagian langit-langit, ditugaskan oleh Paus Julius II dan dilukis oleh Michelangelo dari tahun 1508 hingga tahun 1511, memiliki sebuah rangkaian dari sembilan lukisan yang menggambarkan Penciptaan Dunia oleh Tuhan, Hubungan Tuhan dengan Manusia, dan Jatuhnya Manusia dari Cinta Tuhan. Pada pendentive besar yang menyanggah kubah, dilukiskan dua belas pria dan wanita dari zaman Kitab Suci dan Klasik yang menubuatkan bahwa Tuhan akan mengirimkan Yesus Kristus ke dunia bagi penyelamatan umat manusia.
Pada tahun 1515, Raphael ditugaskan oleh Paus Leo X untuk merancang rangkaian sepuluh permadani untuk digantung di sekitar bagaian bawah dinding kapel, menggantung di bawah rangkaian lukisan dinding abad ke-15 yang ditugaskan oleh Paus Siktus IV.[12] Raphael melihat penugasan ini sebagai sebuah kesempatan untuk disejajarkan dengan Michelangelo, sementara Paus Leo X melihat permadani-permadani tersebut sebagai "jawaban"-nya terhadap lukisan-lukisan di langit-langit yang ditugaskan pada masa Paus Julius II.[13] Tema yang Raphael pilih adalah berdasarkan pada kitab Kisah Para Rasul. Pengerjaannya dimulai di pertengahan tahun 1515. Oleh karena ukurannya yang besar, produksi permadani-permadani ini dilakukan di Brussels, dan membutuhkan waktu empat tahun untuk menyelesaikannya oleh tangan-tangan para tukang tenun di gudang kerja milik Pieter van Aelst.[14]
Meskipun rancangan rumit Michelangelo untuk langit-langit kapel bukanlah seperti yang dibayangkan oleh orang yang menugaskannya (Paus Julius II) ketika ia menugaskan Michelangelo untuk melukiskan Keduabelas Rasul, skema lukisan tersebut menampilkan sebuah pola ikonografi yang konsisten, namun pekerjaan ini terganggu oleh penugasan lain kepada Michelangelo untuk melukis dinding di atas altar dengan tema Pengadilan Terakhir (1537-1541). Pengerjaan lukisan tema ini mengakibatkan penghapusan dua episode dari rangkaian lukisan Kehidupan, beberapa lukisan Sri Paus dan dua kelompok lukisan para nenek moyang Yesus Kristus. Dua jendela menjadi tertutup dan dua permadani Raphael menjadi mubazir.

[sunting] Lukisan dinding

Lukisan-lukisan dinding dikerjakan oleh para pelukis terkenal di abad ke-15: Pietro Perugino, Sandro Botticelli, Domenico Ghirlandaio, Cosimo Rosselli, Luca Signorelli dan orang-orang di tempat-tempat kerja mereka, termasuk Pinturicchio, Piero di Cosimo dan Bartolomeo della Gatta.[15] Tema-tema yang diambil adalah tema sejarah religius, dipilih dan dibagi ke dalam konsep sejarah dunia di Abad Pertengahan: sebelum Sepuluh Perintah Allah diberikan kepada Nabi Musa, masa antara Nabi Musa dan kelahiran Yesus Kristus, dan era Kristen setelahnya. Karya-karya ini menekankan kesinambungan antara kitab Perjanjian Lama dan kitab Perjanjian Baru, atau transisi dari hukum Nabi Musa ke dalam agama Kristen.
Cuplikan dari kehidupan Musa karya Sandro Botticelli.
Dinding-dinding kapel dilukis dalam sebuah periode yang telatif cukup singkat, sekitar sebelas bulan antara bulan Juli 1481 hingga bulan Mei 1482.[16] Setiap pelukis diharuskan untuk membuat contoh lukisan dinding terlebih dahulu. Contoh lukisan ini rencananya akan diteliti dan dievaluasi secara resmi pada bulan Januari 1482, namun sudah menjadi bukti, bahkan di tahap-tahap awal pengerjaannya, bahwa lukisan-lukisan dinding tersebut akan menjadi karya yang memuaskan. Sehingga, pada bulan Oktober 1481, para seniman diberikan tugas secara resmi untuk mengerjakan sepuluh cerita sisanya.
Jalur cerita lukisan dalam Kapel Sistina disusun berbentuk sebuah rangkaian lukisan. Tiap rangkaian diambil dari cerita-cerita kitab Perjanjian Lama (Kehidupan Nabi Musa) dan kitab Perjanjian Baru (Kehidupan Yesus Kristus). Jalur ceritanya dimulai dari dinding altar --- tempat lukisan Pengadilan Terkahir karya Michelangelo akan berada tiga puluh tahun kemudian --- berlanjut di sepanjang dinding-dinding kapel yang panjang, dan berakhir di dinding pintu masuk. Sebuah galeri lukisan-lukisan para paus dilukiskan di atas cerita-cerita ini. Selama lukisan-lukisan cerita ini belum selesai, keberadaan korden yang penuh lukisan menutupi area tersebut. Tiap-tiap gambar dari dua alur cerita mengandung referensi tipologi antara satu dengan yang lainnya. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dimengerti membentuk satu hal yang utuh, dengan Nabi Musa tampil sebagai figur awal Kristus.
Kedudukan tipologi alur cerita Nabi Musa dan Yesus Kristus memiliki dimensi politis yang melebihi dari hanya penggambaran hubungan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Paus Siktus IV melancarkan rencana yang matang untuk menggambarkan, melalui cerita-cerita ini, legitimasi kekuasaan Paus yang berlangsung dari Nabi Musa, melalui Kristus, kepada Santo Petrus yang kekuasaan tertingginya dianugerahkan oleh Kristus, dan yang akhirnya jatuh pada Paus terpilih saat ini. Penggambaran di atas digunakan secara jelas untuk menggambarkan garis hak waris kekuasaan yang dianugerahkan oleh Tuhan tersebut.
Dua gambaran yang paling penting dari lukisan-lukisan dinding tersebut, "Kristus Memberikan Kunci kepada Santo Petrus" karya Perugino dan "Penghukuman Korah" karya Botticelli. Kedua lukisan ini menampilkan gambar Gerbang Kemenangan Kaisar Konstantin Agung, kaisar Kristen pertama, yang memberikan kekuasaan sementara Sri Paus atas dunia Romawi Barat. Keberadaan Gerbang Kemenangan tersebut secara halus meremehkan hadiah dari kekaisaran mengenai kekuasaan Sri Paus. Dengan lukisan ini, Paus Siktus IV tidak hanya menggambarkan posisinya dalam garis penerus gembala manusia yang dimulai di zaman Perjanjian Lama dan terus berlangsung melewati zaman Perjanjian Baru hingga hari ini. Secara bersamaan, lukisan tersebut mengemukakan kembali pandangan bahwa paus adalah penerus resmi dari Kekaisaran Romawi.

[sunting] Kristus Memberikan Kunci kepada Santo Petrus

Lukisan "Kristus Memberikan Kunci kepada Santo Petrus.
Di antara lukisan-lukisan dinding Perugino di dalam Kapel Sistina, lukisan "Kristus Memberikan Kunci kepada Santo Petrus" adalah lukisan yang paling jelas maknanya. Lukisan ini adalah sebuah referensi pada Injil Matius bab 16,[17][18] yang berisi mengenai "kunci Kerajaan Surga" yang diberikan kepada Santo Petrus.[19] Kunci-kunci ini merupakan lambang kekuasaan untuk mengampuni dan menyebarkan Sabda Tuhan, sehingga kunci-kunci ini memiliki kekuasaan untuk memberikan jalan masuk menuju surga. Gambar-gambar utamanya ditata di tengah-tengah lukisan, diapit antara dua baris padat dekat dengan permukaan gambar dan jauh di bawah kaki langit.[20]
Gambar kelompok utamanya, yakni yang menunjukkan Kristus sedang menyerahkan kunci-kunci perak dan emas kepada Santo Petrus yang sedang berlutut, dikelilingi oleh rasul-rasul lainnya, termasuk juga Yudas Iskariot (gambar orang kelima di sebelah kiri gambar Kristus), semuanya dengan lingkaran cahaya di kepala mereka, bersama dengan potret tokoh-tokoh masa itu, termasuk gambar yang disinyalir merupakan foto diri (gambar orang kelima dari ujung sebelah kanan). Lapangan terbuka yang datar dipisahkan oleh batu-batu berwarna menjadi bujursangkar besar yang menggambarkan lokasi jauh di belakang gambar utamanya, walaupun bujursangkar-bujursangkar ini tidak digunakan untuk menentukan tata ruang. Hubungan antara gambar-gambar manusia dan perkiraan bantuk Kuil Solomon yang memiliki serambi bertiang yang mendominasi lukisan tersebut juga tidak dijelaskan secara efektif. Gerbang-gerbang kemenangan di sudut-sudut lukisan terlihat hadir sebagai rujukan-rujukan para kolektor barang antik yang berlebihan yang cocok bagi orang-orang Romawi. Tersebar di tampakan jarak yang tidak terlalu jauh adalah dua gambaran sekunder dari Kehidupan Kristus, yaitu Uang Upeti di sebelah kiri dan Perajaman Kristus di sebelah kanan.
Gaya penggambaran orang-orang di lukisan ini terinspirasi dari Andrea del Verrocchio.[21] Kain korden yang penuh dengan motif yang rumit, dan gambar orang-orang, terutama beberapa rasul, termasuk di antaranya Santo Yohanes Penginjil, dengan ciri-ciri fisik yang cantik, rambut panjang terurai, sikap yang anggun, dan penuh kemurnian mengingatkan akan "Santo Thomas", salah satu patung perunggu karya Verrocchio di Orsanmichele. Pose beberapa gambar orang memiliki beberapa sikap yang secara konsisten dipergunakan berulang kali, biasanya digambarkan terbalik dari satu sisi ke sisi yang lain, menandakan penggunaan model dasar gambar yang sama. Gambar-gambar ini terlihat anggun yang cenderung untuk berdiri tegak di atas tanah. Kepala-kepala mereka terkesan sedikit kekecilan dibandingkan dengan proporsi tubuh mereka, dan ciri-ciri fisik mereka dilengkapi dengan hal-hal yang sangat mendetil.
Kuil Yerusalem yang bersegi delapan[22] dan serambi-serambinya yang mendominasi poros tengah pastilah berlatar belakang sebuah proyek yang diciptakan oleh seorang arsitek, namun Perugino membuatnya seperti "terjemahan" dari model kayu bangunan, dilukiskan dengan ketelitian yang luar biasa. Bangunan tersebut dengan gerbang-gerbangnya berfungsi sebagai sebuah latar belakang bagi gambar-gambar aktivitas di depannya. Perugino membuat sebuah kontribusi penting dalam melukis pemandangan. Suatu rasa akan dunia yang tanpa batas yang terbentang di kaki langit dapat dirasakan lebih kuat dibandingkan karya-karya lukis rekan-rekan seniman pada zamannya. Pohon-pohon yang menari ringan di hadapan langit yang penuh awan dan bukit-bukit berwarna abu-abu kebiruan di kejauhan menggambarkan sebuah gaya melukis yang menjadi acuan pelukis-pelukis di masa berikutnya, terutama Raphael.

[sunting] Peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Nabi Musa

Lukisan "Peristiwa-peristiwa dalam Kehidupan Nabi Musa.
Sandro Botticelli melukis tiga lukisan dalam periode yang singkat (sebelas bulan): Peristiwa-peristiwa dalam Kehidupan Nabi Musa, Percobaan terhadap Yesus Kristus, dan Penghukuman Korah.[16] Ia juga melukis di bagian atas gambar-gambar peristiwa dari Kitab Suci, dengan bantuan yang besar dari anak buahnya, beberapa potret paus yang sebagian besar telah dilukis ulang. Dalam semua karya-karya ini lukisannya terkesan cukup lemah.
Lukisan "Peristiwa-peristiwa dalam Kehidupan Nabi Musa" berada di sisi yang berlawanan dengan lukisan "Percobaan terhadap Yesus Kristus", juga dilukis oleh Botticelli. Kedua lukisan ini secara tipologi ada hubungannya, yakni keduanya berkenaan dengan tema percobaan. Botticelli menggabungkan tujuh episode dari kehidupan Nabi Musa muda ke dalam sebuah pemandangan dengan keahlian yang luar biasa, yakni dengan mengelompokkan gambar-gambar orangnya ke dalam empat baris diagonal.

[sunting] Penghukuman Korah

Lukisan "Penghukuman Korah".
Pesan dari lukisan ini memberikan kunci untuk mengerti akan Kapel Sistina sebagai suatu keutuhan sebelum adanya karya-karya Michelangelo. Lukisan dindingnya menggambarkan tiga episode, dengan setiap episode menggambarkan pemberontakan orang Yahudi terhadap para pemimpin pilihan Tuhan (Nabi Musa dan Harun), bersama dengan hukuman Tuhan yang terjadi selanjutnya bagi para penghasut pemberontakan tersebut.
Pada sisi sebelah kanan dilukiskan pemberontakan orang Yahudi terhadap Nabi Musa. Sang Nabi digambarkan sebagai seorang tua baya dengan janggut putih panjang, berbusana gaun panjang kuning dan jubah panjang hijau. Marah karena berbagai cobaan yang mereka alami dalam perjalanan keluar dari Mesir, orang-orang Yahudi ini meminta agar Nabi Musa disingkirkan. Mereka meminta seorang pemimpin baru, seseorang yang akan membawa mereka kembali ke Mesir, dan mereka mengancam akan merajam Nabi Musa, namun Yosua menghalang-halangi niat orang-orang tersebut seperti yang tergambar di dalam lukisan Botticelli.
Bagian tengah lukisan dinding menggambarkan pemberontakan anak-anak Harun dan beberapa orang kaum Levi di bawah pimpinan Korah yang, sebagai penentangan mereka terhadap kekuasaan Harun sebagai Imam Tinggi, mempersembahkan dupa sendiri.[23] Di latar belakang terlihat Harun dengan jubah birunya mengayunkan dupanya sembari berdiri tegak dan dengan penuh khidmat, sementara musuh-musuhnya terhuyung-huyung dan terjatuh ke tanah bersama dupa-dupa mereka atas perintah Tuhan. Hukuman bagi mereka terjadi kemudian di sisi sebelah kiri lukisan ketika tanah retak terbuka dan menelan para pemberontak tersebut ke dalamnya. Dua putra Korah yang tidak bersalah tampak mengambang di awan, diselamatkan dari hukuman Tuhan.
Pesan utama dari peristiwa-peristiwa ini merupakan perwujudan dari tulisan di bagian tengah gerbang kemenangan kota: "Biarlah tidak ada manusia yang mendapatkan kehormatan bagi dirinya sendiri kecuali bagi mereka yang dipilih oleh Tuhan, seperti Harun." Lukisan dinding ini oleh karenanya mengingatkan orang akan sebuah peringatan bahwa hukuman Tuhan akan diberikan kepada mereka yang melawan para pemimpin yang dipilih Tuhan. Peringatan ini juga mengandung rujukan politik masa kini lewat penggambaran Harun dalam lukisan dinding tersebut, yang digambarkan mengenakan tiara dengan tiga susunan lingkaran milik Sri Paus sehingga gambaran ini dimengerti sebagai gambaran akan pendahulu para paus. Ini merupakan peringatan bagi mereka yang mempertanyakan kekuasaan tertinggi Sri Paus atas Gereja. Hak paus terhadap kepemimpinan Gereja adalah anugerah dari Tuhan, asal-usulnya berada di saat Kristus memberikan Santo Petrus kunci Kerajaan Surga dan oleh karenanya memberikan kedudukan tertinggi dalam Gereja yang masih muda. Perugino melukiskan unsur penting mengenai doktrin kedudukan tertinggi Sri Paus dalam Gereja ini berhadapan langsung dengan lukisan dinding Botticelli.

[sunting] Percobaan terhadap Kristus

Lukisan "Percobaan terhadap Kristus".
Lukisan dinding ini yang dimulai oleh Botticelli pada bulan Juli 1481 adalah lukisan ketiga dalam rangkaian lukisan Kristus dan menggambarkan percobaan terhadap Kristus. Tiga cobaan setan yang ditawarkan kepada Kristus, seperti yang digambarkan dalam Injil Matius, dapat terlihat di latar belakang lukisan dengan setan menyamar sebagai seorang pertapa. Di bagian kiri atas, di atas gunung, setan menantang Kristus untuk mengubah batu menjadi roti; di bagian tengah terlihat setan dan Kristus berdiri di sebuah kuil dengan setan sedang berusaha merayu Kristus untuk menjatuhkan dirinya sendiri; di bagian kanan, akhir ceritanya, setan menunjukkan Putra Allah segala kekayaan duniawi yang indah dan memberikan semuanya itu pada Kristus apabila Sang Putra Allah bersedia menjadikan setan tuan-Nya. Namun Kristus mengusir setan tersebut dan memperlihatkan bentuk asli dari setan itu.[16]
Detail dari Percobaan Terhadap Kristus.
Di bagian belakang kanan, tiga malaikat telah mempersiapkan sebuah meja untuk perayaan Ekaristi, sebuah gambar yang hanya bisa dimengerti ketika melihatnya dalam hubungannya dengan peristiwa yang terjadi di bagian depan lukisan.[24] Isi kedua gambar ini diperjelas dengan kemunculan kembali Kristus bersama tiga malaikat di bagian tengah bawah lukisan. Ia tampak menjelaskan peristiwa yang terjadi di bagian depan lukisan kepada para abdi Tuhan tersebut.
Terdapat pertanyaan mengenai keberadaan upacara kurban ala Yahudi di sana, hal yang dilakukan tiap hari di depan kuil menurut ajaran tradisi tua. Imam Agung menerima mangkuk berisi penuh darah kurban, sementara beberapa orang membawa hewan dan kayu sebagai kurban. Sekilas terlihat bahwa dimasukkannya gambar upacara kurban ala Yahudi dalam rangkaian lukisan Kristus akan tampak membingungkan, namun penjelasannya mungkin terdapat di dalam interpretasi tipologi. Upacara kurban Yahudi di sini merujuk pada penyaliban Kristus, yang melalui wafat-Nya Ia mempersembahkan tubuh dan darah-Nya demi penebusan dosa manusia. Pengorbanan Kristus diperingati dalam peringatan Ekaristi, yang secara halus digambarkan di lukisan tersebut sebagai berbagai persembahan di atas meja yang dipersiapkan oleh para malaikat.

[sunting] Michelangelo

Sebagian kiri atap setelah restorasi.
Michelangelo ditugaskan oleh Paus Julius II di tahun 1508 untuk melukis kembali langit-langit kapel yang sebelumnya berhiaskan lukisan bintang-bintang emas di langit biru. Pekerjaan ini diselesaikan antara tahun 1508 sampai 1 November 1512. Ia melukis "Pengadilan Terakhir" di atas altar, antara tahun 1535 sampai 1541, berdasarkan tugas dari Paus Paulus III Farnese.[25]
Michelangelo merasa takut akan besarnya tugasnya ini dan telah menyatakannnya dari awal pada pendekatan Paus Julius II bahwa dia sejatinya lebih baik menolaknya. Ia merasa bahwa ia lebih sebagai seorang pematung daripada sebagai seorang pelukis. Ia juga curiga pada besarnya proyek yang ditawarkan kepadanya oleh orang-orang yang dianggap musuh-musuhnya sebagai sebuah jebakan agar ia gagal. Bagi Michelangelo, proyek ini merupakan gangguan dari proyek pembuatan patung marmernya yang telah ia kerjakan selama beberapa tahun terakhir.[26]
Sumber inspirasi Michelangelo tidak mudah diketahui. Baik teolog aliran Joachim dan aliran Agustinus berada di dalam lingkaran pengaruh Julius. Tidak diketahui juga dengan pasti tangan siapakah yang benar-benar secara fisik melukis semua gambar yang dianggap karya Michelangelo tersebut.[27]

[sunting] Langit-langit kapel

Lukisan Tuhan memberikan kehidupan kepada Adam.
Pada tahun 1508, Michelangelo ditugaskan oleh Paus Julius II untuk melukis langit-langit kapel. Tugas ini memakan waktu dari tahun 1512 hingga selesai.[28] Agar dapat menggapai langit-langit, Michelangelo membutuhkan alat bantu. Ide pertama diberikan oleh arsitek favorit Paus Julius II bernama Donato Bramante yang ingin membuatkan tangga yang digantung di udara menggunakan tali tambang, namun Bramante tidak berhasil menyelesaikan tugasnya, dan alhasil kerangka mekanisme yang ia bangun tidak sempurna. Ia melubangi langit-langit kapel sebagai tempat untuk menggantung tali yang menahan tangga gantung. Michelangelo tertawa ketika ia melihat kerangka tersebut dan percaya bahwa benda tersebut akan meninggalkan lubang di langit-langit begitu pekerjaan melukis selesai. Ia bertanya pada Bramante apa yang akan terjadi ketika seorang pelukis mencapai lubang-lubang tersebut untuk melukis, tapi sang arsitek tidak memiliki jawaban.
Masalah ini dibawa ke depan Sri Paus yang kemudian menginstruksikan Michelangelo untuk membuat tangga sendiri. Michelangelo lantas menciptakan pijakan-pijakan kayu yang dipasang di lubang-lubang dinding yang tingginya hingga mendekati bagian atas jendela. Ia berdiri di atas tangga kayu ini saat ia melukis.[29]
Michelangelo menggunakan warna-warna cerah, yang sangat mudah untuk dilihat dari lantai kapel. Pada bagian terendah dari langit-langit tersebut ia melukiskan para nenek moyang Kristus. Di atasnya ia melukiskan para nabi, pria dan wanita secara bergantian, dimulai dengan Nabi Yunus di atas altar. Pada bagian tertingginya Michelangelo melukis sembilan cerita dari Kitab Kejadian. Asalnya ia ditugasi untuk hanya melukis 12 gambar orang, para Rasul. Ia menolak tugas tersebut karena ia merasa dirinya sebagai seorang pematung dan bukan seorang pelukis. Sebagai komprominya, Sri Paus memperbolehkan Michelangelo untuk melukiskan peristiwa-peristiwa Kitab Suci pilihannya sendiri. Ketika pekerjaan tersebut selesai, ia telah melukis lebih dari 300 gambar orang. Figur-figur yang ia lukis menampilkan peristiwa penciptaan, Adam dan Hawa di Taman Eden, dan Air Bah Nabi Nuh.

[sunting] Pengadilan Terakhir

Santo Bartholomeus memegang pisau kemartirannya dan kulitnya yang telah dikuliti dalam Pengadilan Terakhir.
"Pengadilan Terakhir" dilukis oleh Michelangelo antara tahun 1535-1541, setelah Jatuhnya Roma tahun 1527 oleh para tentara bayaran dari Kekaisaran Romawi Suci, yang secara efektif mengakhiri zaman Renaissance Romawi, tak lama sebelum Konsili Trento. Pengerjaannya dilakukan dalam ukuran yang besar, dan meliputi semua dinding di belakang altar Kapel Sistina.
"Pengadilan Terakhir" merupakan penggambaran atas datangnya kembali Kristus dan hari kiamat. Roh-roh manusia diangkat ke surga atau dicampakkan ke neraka sesuai dengan pengadilan oleh Kristus dan para pengikut suci-Nya. Dinding "Pengadilan Terakhir" dilukis sedemikian rupa sehingga seakan-akan semakin ke atas bagian lukisannya terasa semakin menyelimuti orang-orang yang melihatnya. Ini dimaksudkan untuk menjadikan lukisan tersebut terkesan menakutkan dan untuk menanamkan ketakwaan dan penghormatan yang dalam kepada kekuasaan Tuhan. Lain dibandingkan dengan lukisan-lukisan dinding lainnya di dalam kapel, figur-figur yang dilukis di lukisan ini terlihat sangat berotot dan terkesan tersiksa. Bahkan Santa Perawan Maria yang berada di tengah-tengah lukisan juga terlihat sedikit ketakutan di hadapan Tuhan.
Lukisan "Pengadilan Terakhir".
"Pengadilan Terakhir" merupakan masalah dari perselisihan yang sengit antara Kardinal Carafa dan Michelangelo. Oleh karena ia menampilkan gambar-gambar orang yang telanjang, sang seniman dituduh bersalah atas karya-karya yang tidak bermoral dan penuh kecabulan. Kampanye sensor (dikenal dengan nama "Kampanye Daun Ara") dirancang oleh Carafa dan Monsinyur Sernini (duta besar Mantua) untuk menghapus lukisan dinding tersebut. Ketika pejabat acara Sri Paus, Biagio de Cesena, mengatakan "sangatlah memalukan bahwa di dalam sebuah tempat yang suci terdapat semua gambar-gambar telanjang itu, memamerkan diri mereka dengan sangat memalukannya, dan bahwa karya itu bukanlah karya untuk kapel Sri Paus, melainkan karya untuk rumah-rumah pemandian dan minum-minum."[30] Michelangelo lantas menggunakan ciri-ciri da Cesena untuk melukis Minos, hakim dari neraka. Alkisah ketika pejabat gereja itu mengadukan hal ini kepada atasannya, Sri Paus menjawab bahwa daerah kekuasaannya tidak mencapai neraka, sehingga lukisan itu harus tetap ada.
Alat-alat kelamin yang ada di lukisan dinding tersebut kemudian di-"tutupi" oleh seniman Daniele da Volterra.[31] Sejarah mengingatnya dengan nama sebutan yang merendahkan "Il Braghettone" --- sang pelukis celana.

[sunting] Restorasi dan kontroversi

Proyek restorasi langit-langit Kapel Sistina dimulai pada tanggal 7 November 1984. Setelah selesai, kapel dibuka kembali bagi publik pada tanggal 8 April 1994. Bagian restorasi dalam Kapel Sistina yang menimbulkan kekhawatiran paling besar adalah bagian langit-langitnya, yang dilukis oleh Michelangelo. Timbulnya figur-figur Para Leluhur Kristus yang berwarna terang dari warna yang kelam memunculkan sebuah reaksi ketakutan bahwa proses restorasi telah melakukan proses pembersihan yang terlalu berlabuhan.
Daniel, sebelum dan sesudah restorasi.
Masalahnya terdapat di dalam analisa dan pengertian akan teknik yang digunakan oleh Michelangelo, dan reaksi teknik dari para pekerja restorasi atas pengertian tersebut. Sebuah penelitian yang mendalam tentang lunette lukisan-lukisan dinding ini meyakinkan para pekerja restorasi bahwa Michelangelo bekerja sepenuhnya dengan menggunakan teknik buon fresco; yakni sang seniman hanya mengerjakan karyanya pada plester yang baru diletakkan, dan setiap bagian dari karyanya diselesaikan ketika plester tersebut masih dalam kondisi baru. Dengan kata lain, Michelangelo tidak bekerja dengan teknik a secco atau ia tidak datang kembali kemudian dan menambahkan detil di
lukisannya pada plester yang sudah kering.
Para pekerja restorasi, yang menganggap bahwa sang seniman mengambil sebuah teknik untuk seluruh lukisannya, mengambil pendekatan menyeluruh pada proses restorasi. Sebuah keputusan dibuat bahwa semua lapisan berwarna suram dari lem hewani dan jelaga (debu lampu api), semua yang berasal dari lilin, dan semua area yang diwarnai berlebihan adalah hasil kontaminasi satu hal dari beberapa hal berikut ini: penimbunan asap, usaha-usaha restorasi di zaman dulu dan pewarnaan tambahan oleh para pekerja restorasi berikutnya yang berusaha untuk menghidupkan kembali wujud lukisan tersebut. Berdasarkan keputusan ini, berdasarkan penelitian Arguimbau atas data restorasi yang ada, para ahli kimia dari tim restorasi menentukan sebuah larutan kimia yang secara efektif menghilangkan hal-hal lain di lukisan tersebut kecuali bagian plester yang diwarnai. Setelah penggunaan cairan kimia tersebut, hanya bagian-bagian yang dilukis buon fresco